Foto: fitri agung from Pekanbaru, Riau, Indonesia, Indonesia · CC BY 2.0 · Wikimedia Commons
Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo
Situs Sejarah · Palembang
Dicocokkan dengan beberapa sumber Sumber data: Redaksi sumsel.com Diperbarui 6 Nov 2026 Dicek 28 Okt 2026 Data salah?
Tentang Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo
Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo, yang lebih akrab disebut Masjid Agung Palembang, berdiri di Jalan Jenderal Sudirman, Kelurahan 19 Ilir, Bukit Kecil. Letaknya di jantung kota tua Palembang: Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera) berada tepat di depannya, dan Jembatan Ampera hanya sepelemparan batu. Masjid ini merupakan masjid terbesar di Kota Palembang dan salah satu peninggalan penting Kesultanan Palembang Darussalam.
Sejarahnya berawal dari masjid lama di Keraton Kuto Gawang yang terbakar saat perang melawan Belanda pada 1659. Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo kemudian membangun masjid baru mulai 1738, dan bangunan itu diresmikan pada 26 Mei 1748. Pada awalnya warga menyebutnya Masjid Sulton karena pembangunannya dipimpin langsung oleh sultan. Bangunan aslinya hampir bujur sangkar, sekitar 30 x 36 meter dengan luas 1.080 meter persegi, dan mampu menampung sekitar 1.200 jemaah. Masjid ini juga dikenal sebagai pusat pendidikan Islam yang melahirkan ulama, di antaranya Syekh Abdus Shamad al-Palembani.
Daya tarik utamanya ada pada perpaduan tiga gaya arsitektur. Atap limas bertingkat tiga mengikuti pola bangunan Nusantara, jendela tinggi dan pilar besar memberi nuansa Eropa, sedangkan jurai melengkung di sisi atap serta menara lama berbentuk segi enam setinggi sekitar 20 meter mengingatkan pada kelenteng Tionghoa. Menara lama itu dibangun pada masa Sultan Ahmad Najamuddin, lalu pada 1970-an ditambah menara baru setinggi 45 meter. Banyak bagian kayunya dihiasi ukiran khas Melayu Palembang.
Masjid ini sudah berkali-kali diperluas, termasuk renovasi besar yang dimulai pada 1999 dan menambah tiga bangunan baru di sisi selatan, utara, dan timur. Bangunan asli kini berada di tengah kompleks yang lebih luas. Pemerintah menetapkannya sebagai masjid nasional pada 2003 dan sebagai bangunan cagar budaya yang dilindungi pada 2009. Pada Maret 2026 Wali Kota Palembang menyampaikan rencana renovasi yang berfokus pada pagar dan pengecatan.
Selain untuk salat, pengunjung datang untuk menikmati arsitekturnya, termasuk saat malam ketika bangunan diterangi lampu. Pada bulan Ramadan dan hari raya masjid ini menjadi pusat kegiatan; menjelang Idulfitri 2025, jemaah salat Id diperkirakan mencapai puluhan ribu orang hingga meluber ke arah Jembatan Ampera. Karena masjid aktif digunakan, kunjungan wisata sebaiknya menyesuaikan jadwal salat dan dilakukan dengan pakaian sopan.
Sumber informasi: Wikipedia bahasa Indonesia – Masjid Agung Palembang; Indonesia.travel (Kemenpar) – Masjid Agung Palembang; detikSumbagsel (21 Jan 2026) – Panduan 24 Jam Wisata dan Kuliner di Palembang; Indonesia.travel (Kemenpar, ©2026) – Masjid Agung Palembang; detikSumbagsel (2026) – Walkot Ratu Dewa Akan Renovasi Masjid Agung Palembang; detikSumbagsel (2023) – Masjid Agung Palembang: Sejarah dan Pesonanya; detikSumbagsel (2026) – Rekomendasi Tempat Wisata di Palembang, Cocok Dikunjungi Saat Lebaran; ANTARA Sumsel (2025) – Masjid Agung jadi pusat pelaksanaan Shalat Idul Fitri di Palembang; Wikidata Q14917382
Info Kunjungan
- Harga tiket
- GratisSumber yang dibaca tidak menyebut tiket masuk; masjid aktif dipakai untuk ibadah (2026).
- Waktu terbaik
- Di luar waktu salat berjemaah; malam hari untuk melihat bangunan yang diterangi lampu.
- Cara ke sana
- Masjid berada di Jalan Jenderal Sudirman, 19 Ilir, Bukit Kecil, di pusat Kota Palembang. Monpera berada tepat di depan masjid dan Jembatan Ampera berada di dekatnya, sehingga ketiganya mudah dikunjungi sekaligus dengan berjalan kaki.
- Tips
- Sesuaikan waktu kunjungan dengan jadwal salat karena masjid aktif dipakai beribadah. Kenakan pakaian sopan yang menutup aurat. Gabungkan kunjungan dengan Monpera, Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, dan Jembatan Ampera yang letaknya berdekatan. Saat Ramadan dan hari raya kawasan ini sangat ramai.
Fasilitas
Tanya Jawab
Kapan Masjid Agung Palembang dibangun?
Pembangunan dimulai 1738 oleh Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo dan diresmikan pada 26 Mei 1748.
Apa keunikan arsitekturnya?
Perpaduan gaya Nusantara (atap limas tiga tingkat), Eropa (jendela tinggi dan pilar besar), dan Tionghoa (jurai atap dan menara lama segi enam).
Di mana lokasinya?
Di Jalan Jenderal Sudirman, 19 Ilir, Bukit Kecil, tepat di belakang Monpera dan dekat Jembatan Ampera.
Ulasan (0)
Belum ada ulasan. Jadilah yang pertama memberi ulasan.
Di sekitar sini
SMP Fauziah Palembang
SMP & MTs · Palembang
© Xavier Bonaparte · CC BY-SA 4.0 Museum Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera)
Museum · Palembang
SD Negeri 137 Palembang
SD & MI · Palembang
MIS Fauziah
SD & MI · Palembang
Wisata lain di Palembang
© Gunawan Kartapranata · CC BY-SA 3.0 Jembatan Ampera
Jembatan & Ikon Kota · Palembang
© fitri agung from Pekan... · CC BY 2.0 Benteng Kuto Besak
Benteng & Keraton · Palembang
© Cendy00 · CC BY 4.0 Pulau Kemaro
Pulau · Palembang
© Firzafp · CC BY-SA 4.0 Museum Balaputra Dewa
Museum · Palembang
Kuliner di Palembang
Pempek Candy (Cabang Rajawali)
Pempek · Palembang
Mie Celor 26 Ilir H.M. Syafei Z
Mie Celor · Palembang
Pempek Vico
Pempek · Palembang
Pempek Beringin (Rajawali)
Pempek · Palembang